Coretan Kecil September #1
Sudah lama,
Ciee...critanya sudah lama bangeeeuts nih nggak
membuka hati eh membuka laptop untuk menulis mencurahkan isi hati. Apa lagi
sii... sepulang kencan mingguan, tetiba teringat pesan indahnya Kahlil Gibran bahwa
berbicara mengenai mimpi. Maka mimpi itu bukan apa yang kita capai tapi mimpi
adalah apa yang ingin kita untuk capai. Jadi, kalau bermimpi jadi penulis maka
itu hanya akan menjadi mimpi beneran kalau tidak ada implementasi untuk
mendapatkannya. Sudah berhari hari, berjam-jam, bermenit-menit, berminggu-minggu,
dan berbulan-bulan benak hanya berpikir ‘ingin menjadi penulis’ tapi
actionnya?? NOL. Ah, manusia kayak apa si kamu ini is? Nggak mutu banget. Tapi bener
deh, selama waktu berbulan-bulan dan puluhan ribu detik itu jiwa serasa
dipenjara, nggak merdeka, dan beraat banget. Padahal isi kepala selalu muteer,
ini jempol tiaaap hari bisaaa aja update status di sosmed. Tapi buat nulis kok
ya cek susahnyaa,, padahal daripada tulisannya tercecer kek gitu mending nulis
tiap hari disimpen yang rapi nanti kalau udah saatnya itu bisa jadi buku. Iya BUKU.
Kan kamu udah pernah berikrar buat nulis buku best seller (?) iya kan??? HAYOO
JANGAN OMDO! Bebaal banget selama nggak nulis.. nulis yang bener-bener jadi
tulisan maksudnya bukan nulis status doang. Daripada ide tercecer kemana mana
nggak jelas kan lebih jelas kalau dikumpulin. Iya kan? Aah, aku pernah nulis
ikrar buat nerbitin buku tanggal 19 September 2017. Dan bayangkan! Itu satu
tahun lagi! Iya satu tahun lagi.. kamu yakin bisa nerbitin buku beneran?? Yakinlah
kalau usahanya juga beneran! Nah, sekarang udah tanggal 10 september kan? ayoo
bangkitin lagi semangat dan ruhiyahmu! Hidupkan lagi mimpi-mimpimu yang sempet
tertidur itu is! Jangan loyo apalagi patah semangat! Masih banyak jalan dan
pilihan yang harus kamu segerakan! Lhoh di segerakan? Apanya? apanya yang disegerakan??
yeea baper wess. Ya ituuu lhoo tugas akhir dan amanah-amanahmu karna masih ada banyak amanah lain udah
yang menanti disana..yang meski kamu belum dapat mengetahuinya tapi pasti ada
aja! itu kan sunnatullah. Banyak Pekerjaan Rumah menanti untuk segera diselesaikan.
Nggak papa kanya nulis geje kayak gini? Bener deh,
nih kepala udah beraat banget, udah bebaan banget pngin kerja bareng tuts
kyboard sama jari buat ngetik-ngetik. Tapi ya so what?? Jari ini udaah gateel
banget pengen nulis tulisan panjang, santai, dan ngena’! masuk dunia kuliah
mesti dipaksa nulis status serius-serius mulu’, eh tulisan serius maksudnya dan
ilmiah gitu. Seruu si, tapi bosen juga... pengin nulis yang geje-geje tapi ya
dapet buat ngungkapin amanatnya. Kayak gini ini ni.. soalnya beda lho nulis
terpatah-patah dan tercecer-cecer di status sosmed sama di folder tulisan kita.
Apa bedanya? Iya, bedanya kalau nulis status kita seriiing banget JAIM alias
Jaga Image. Udaah ngetik tuuh panjang kali lebar kali tinggi tetiba karna kita
merasa terlalu alay maka backspace lah
satu-satu. Atau mau ngungkapin perasaan sedalam-dalam dan sejuju-jujurnya eh,
spacenya terbatas. Jadi deh daripada separo separo deleete aja, ganti yang
lain. Ah pokok jadi nggak natural gitu deh. Soalnya udah dipoles-poles sama
suntingan dan pikiran yang kita sediakan selama berjam-jam untuk apdet status!
(hhi pengalaman, tapi ya ada juga yang bener-bener natural) Padahal ya setelah
di apdet langsung ketilep sama status orang kalau dibiarin. Kecuali kalau komennya
diramein! Atau kalau pas nulis udah pas tuh ya, udah bijak dan berwibawa serta
ngena’ banget eh status kita yang indah nan bijak itu dikutip sama orang. Bukan!
Lebih tepatnya dicopy dijadiin status pribadi. Wuaduh! Kalau udah kejadian
kayak gitu, itu salahnya siapa? Hayoo? Salah kita dong karna nggak waspada. Nah
itu udah tahu jawabannya.
Juga, kalau nulis yang serius-serius sih fine-fine
aja Cuma radak harus ngernyitin dikit tu alis sama dahi ke atas. Kenapa? Iya,soalnya
nulis serius juga butuh mikir. Lha wong nulis santai aja butuh mikir apalagi
nulis yang serius semisal esai dan karya tulis ilmiah. Fiuh. Lagi proses memperdalam aja sih, nggak sebel-sebel amat. But basicly I love fiction sotry!
Ah, nulis.
Dibilang hobi ya belum jadi hobi banget, dibiliang
bakat ya bukan bakat juga. Dibilang takdir ya enggak juga sih. Tapi apa ya? Menulis
itu perjuangan gitu!
menulis itu kan amanah ya? (tanya sama diri sendiri sih)
menulis itu kan fitrah manusia kan ya? (tanya lagi sama diri sendiri)
Kok bisa?
Iya kan soalnya segala yang kita tulis juga akan dipertanggungjawaban disamping apa yang kita tulis itu adalah bentuk pertanggungjawaban akan kehidupan kita. Bentuk ikhtiar dan amal usaha kita hidup di dunia. Pengin aja, nulis itu bener-bener nulis, yang jelas jluntrungannya-yang tersebar manfaatnya. Enggak kok. Bukan buat eksis-eksisan... kalau masalah eksis sih monyet hidup di dunia aja udah bisa eksis tanpa perlu menulis. But, there is another value to me for do it. There is another sacrifiece and happying. Bukan sih, u know me so well kan?? Kegejean ini harus segera dihentikan, bener, kalo engga bakalan membahayakan makhluk bumi yang lainnya. Jadi menulis itu adalah aktivitas menghilangkan kegejean, setidaknya, buatku. Menulis adalah bentuk ekspresi syukur selain doa dan dzikir. So, kalau kita masih bisa bersyukur dengan banyak jalan yang indah kenapa tidak? Karena menulis adalah bagian dari keindahan. Kalau aku sendiri sih, semakin kacau ini pikiran maka akan semakin meracau pula segala coretan yang mengalir via tuts keyboard disini. Suer.
menulis itu kan amanah ya? (tanya sama diri sendiri sih)
menulis itu kan fitrah manusia kan ya? (tanya lagi sama diri sendiri)
Kok bisa?
Iya kan soalnya segala yang kita tulis juga akan dipertanggungjawaban disamping apa yang kita tulis itu adalah bentuk pertanggungjawaban akan kehidupan kita. Bentuk ikhtiar dan amal usaha kita hidup di dunia. Pengin aja, nulis itu bener-bener nulis, yang jelas jluntrungannya-yang tersebar manfaatnya. Enggak kok. Bukan buat eksis-eksisan... kalau masalah eksis sih monyet hidup di dunia aja udah bisa eksis tanpa perlu menulis. But, there is another value to me for do it. There is another sacrifiece and happying. Bukan sih, u know me so well kan?? Kegejean ini harus segera dihentikan, bener, kalo engga bakalan membahayakan makhluk bumi yang lainnya. Jadi menulis itu adalah aktivitas menghilangkan kegejean, setidaknya, buatku. Menulis adalah bentuk ekspresi syukur selain doa dan dzikir. So, kalau kita masih bisa bersyukur dengan banyak jalan yang indah kenapa tidak? Karena menulis adalah bagian dari keindahan. Kalau aku sendiri sih, semakin kacau ini pikiran maka akan semakin meracau pula segala coretan yang mengalir via tuts keyboard disini. Suer.
Baiklah. Harus berakhir disini.
So, sebenernya menulis adalah pekerjaan mulia. Kenapa? Karena ia
adalah bagian dari jihad. Weh, ekstrim banget si pake kata-kata jihad. Tapi emang
kok. Jihad bukan hanya kita mengangkat pedang untuk berperang. Aku pikir mengangkat
pena juga adalah wujud kita sedang berperang; berjuang; berusaha; berjihad atau
apalah namanya. Pena adalah senjata untuk menumpas kemungkaran dan menegakkan
keadilan. Saya pikir kezaliman tidak hanya terjadi via fisik saja. Ada banyak
kezaliman yang kita tidak ketahui, salah satunya dalam hal penulisan. Banyak kok
penulis-penulis andal yang justru menggunakan skill menulisnya untuk menegakkan
kejahata. Maka menulis adalah bagian dari jihad jika kita meniatkan itu untuk
beramar ma’ruf dan nahi munkar. La izzata
illa biljihad tiada kemuliaan tanpa dengan jihad. Sebaik-baik jihad adalah
apa yang bisa kita lakukan saat ini yang menjadikan Allah sebagai tujuannya. With
writes, lets to be mujahidah girls!
Menjadi muda dan mulia itu mimpi setiap orang tapi
menentukan cara menjadi mulia itu adalah pilihan.
Hanya sekadar coretan kecil dari mahasiswa semester akhir
yang masih singgah di Bumi Suwar-Suwir.
Komentar
Posting Komentar