DeJavu Putih Biru
Dejavu, fiuh! melewati kerumunan embun dan riuh ramai orang-orang dijalanan. Seragam
putih biru dan putih abu-abu menjadi tak asing di pandangan ini. Entah setebal
apa embun di pagi ini, namun masih sangat jelas dan lekat roda dua mini sepeda
menjadi perangkat belajar yang krusial bagi anak-anak di desa pada waktu itu.
Saat ini, heterogenitas teknologi pendukung belajar (red: kendaraan) mulai
terlihat, anak-anak bahkan dengan seragam merah putih pun sudah bisa
mengendarai vespa mini versi ‘modern’ ataupun motor bebek bermerk made in Cina atau Jepang. Dulu masih
lekat sekali, kalau ada satu motor bermerk inisial A yang masih menjadi idaman para
pelajar untuk menyeberang perbatasan kota dengan berburu ilmu di tempat
perburuan bernama sekolah. Tak jarang, jika jarak yang ditempuh masih dalam
radius 1 kecamatan maka satu motor bisa untuk 3-4 orang, itu pemandangan biasa –
saking polantas masih belum masuk desa kan ya (?). Namun sekarang, pemandangan
sedikit mengalami perubahan, agaknya motor nyentrik keluaran tahun 90-an itu
tak lagi menjadi idaman para pelajar- dan satu orang hanya berhak atas satu
kendaraan yang dinaikinya, wuih banget
kan?. Tapi, agaknya, -motor jenis itu- sekarang lebih menjadi alat
transportasi primadona para petani yang hilir mudik di pematang sawah yang sekedar
menjadi penyambung kaki para pencari rumput. Dari seprintilan kendaraan itu masih juga ada pemandangan kendaraan yang
asapnya berkelakar dengan si embun pagi, paling zaman dulu alat uji emisi belum
se-eksis sekarang sampai-sampai produksinya belum memikirkan konvergensi antara
kenalpot sama embun pagi, pikirku.
Senja kali ini berasa aurora pucat berwarna orens keabu-abuan. Kabut masih
sama seperti 7 tahun silam, putih pekat dan menegangkan. Jam hampir menunjukkan
pukul 7 pagi dimana para pelajar berseragam biru putih berjuang mati-matian mengayuh
sepedanya agar tidak terlambat. Tapi embun masih saja ribut dengan gugatannya. Ia malah ogah-ogahan diterobos dalam jarak
pandang 5 meter sekalipun. Padahal lampu
sen motor kedap kedip ala diskotik sudah tersetting dengan jarak cahaya lebih
dari 8 meter. Dan sepeda mini bagi para pelajar itu sudah tersetting spion juga,
keren! Rupanya benar kata ibuku, hanya dengan berdamailah semua orang bisa
menggugat kabut di pagi hari. Seperti jua para petani yang berjuang
membelalakan pandangannya dari mulai uput-uput,
mencari upaya untuk membedakan hasil panen antara yang gabug atau yang isi, antara kuning dan jingga, antara yang berhama
dengan yang sehat. Namun upaya itu bahkan sia-sia, sampai matahari muncul benar-benar
di waktu siang.
DeJavu vroh,
Ini adalah hari pertama adikku menjadi Siswa Menengah Atas Kejuruan di
SMP yang dulu aku dilahirkan disitu. Mereka satu pertiwi. Hari ini adalah hari
istimewa bagi seluruh siswa, entah yang mereka baru saja naik tingkatan kelas,
atau baru saja beralih jenjang dari satu tingkat ke tingkat berikutnya. Yang jelas
di hari senin ini perubahan banyak terjadi, dari yang paling kontras upama status
dan seragam baru, sampai perubahan yang tidak kontras sekalipun, yaitu uang
saku! Aku yakin si minimal-minimalnya uang saku naik dari x rupiah menjadi x + x kuadrat rupiah. Apalagi masa putih
biru adalah masa peralihan anak dari anak-anak menjadi remaja dan putih abu-abu
adalah peralihan dari remaja menjadi remaja sekali. Orang tua murid pasti berpikir keras tentang dinamisasi
uang saku di saku anak-anaknya. Harus progresif, atau proporsional, atau bahkan
tetap.
Terlihat ramai pemandangan di depan Sekolah Menengah Pertama itu. Para orang
tua yang mengantar anaknya hanya berdadah – melambaikan tangan sampai depan
gerbang sekolah saja. Hari ini hari pertama MOS (Masa Orientasi Siswa Baru). Dengar-dengar
istilah MOS sekarang mengalami perubahan definitif menjadi Pengenalan
Lingkungan Sekolah atau yang disebut dengan PLS, entah apa yang membedakan
hanya curi dengar saja. Ada kabar bahwa PLS adalah aturan baru dari Kemendikbud.
Bahwa penanggung jawab dan pelaksana diatasi oleh para guru sendiri. Berbeda
dari 7 tahun yang lalu ketika MOS atau PLS (istilah sekarang) dipegang oleh
kakak tingkatannya sendiri. Bahkan peraturan tentang dilarangnya membawa
peralatan ospek/MOS pun resmi diberlakukan tahun ini. Ya, cukup yakin si,
soalnya adikku cuma disuruh membawa 2 buah roti isi seharga 2-ribuan.
Kejadian mengantar adik ke sekolah berlanjut ke Dejavu-ku selama menjadi siswa biru putih. Rupanya beberapa guru
telah siap berdiri di depan gerbang untuk menyambut para siswanya, tak jarang
pula aktivitas salim wa sungkem dilakukan
antara guru dan murid. Ah, indah... pikirku.
Tak lekat juga tak hilang dari ingatan, bagaimana dulu sesampainya di sekolah
gerbang pun hampir ditutup wkwk karena telat menerobos embun pagi. Atau pengalaman
bersepeda mini yang berangkat dalam kondisi utuh, pulang lebih dari sekedar
utuh dan prompang. Atau perjuangan
ketika berangkat sekolah, yang remnya blong
di jalan, yang pedhalnya copot, bocor
di tengah jalan, sadhelnya copot,
keranjangnya copot karena keberatan beban dan segala kerusakan-kerusakan
lainnya. Jadi benar juga ya, bahwa bersekolah adalah berjuang, berjuang untuk
menghadapi apapun hambatan yang ada. Serta berjuang untuk menikmati segala
hambatan-hambatan itu dan berdamai dengan mereka. Berjuang dari kebodohan dan
keterpurukan untuk segera bangkit melangkah. Sekolah adalah tempatnya para
pemberontak, pemberontak kehidupan yang menginginkan keadilan dari sebuah
kebaikan ataupun kebaikan dari sebuah keadilan. Belajar dan mengajar, kalau
kata Pak Anies Baswedan sekolah adalah markasnya para terdidik belajar
mendidik, ya formalnya wadah pendidikan. Iya mendidik, tugas bagi siapapun yang
telah tertempa didikan. Jobdes yang sama bagi setiap lembaga keren bernama
sekolah.
Inget juga bagaimana guru-guru keren itu mengajar dengan gaya dan
kharisma biologis mereka:
Bu Natali dengan konsep kimia dan fisika kelistrikannya
Pak Yitno; mantan wali kelas kesayangan dengan ilmu pertanaman dan
biologinya
Pak Sugandono dengan matematika rumus jitunya
Bu Prich dengan kesabaran rumus matematikanya juga
Bu Rahma dengan ilmu sejarahnya
Pak Ranto dengan ilmu kewarganegaraan dan konselingnya
Bu Endang dengan ilmu bahasa jawanya
Bu Lely, ibu guru kesayangan dengan bahasa indonesianya
Pak Minto, pak guru kesayangan dengan bahasa inggrinsya dan rawan
pembullyannya
Bu Mafudah juga guru bahasa inggris dengan telaten dan cakapnya
Pak Puri guru IPS sosial, favorit keekonomiannya
Alm. Pak Agus Sunandar dengan mapel agamanya yang selalu mengabsen
murid-muridnya dengan nada khasnya
Pak Tulus yang dengan tulus membina kebugaran jasmani kami
Bu Tuti dengan kesabaran dan ketelatenannya menghadapi
kenakalan-kenakalan kami
Dan masih banyak lainnya... semoga kalian tetap dalam kondisi sehat
Terima kasih sekali karena telah menjadikan saya mungkin juga teman-teman yang
lain; orang yang pernah merasakan jatuh cinta. Jatuh cinta pada apa yang mereka
ajar, jatuh cinta menikmati proses itu. Proses dimana kami kadang dimarahi,
disindir, dinasehati, dan ditempa dari sifat ego yang tinggi, kekanak-kanakan
yang warbiyasah menjadi seperti
sekarang ini. Terima kasih juga karena berkat itu semua saya masih jatuh cinta
pada mereka, kasih sayang dan ilmu mereka. Juga untuk semua teman, yang gokil,
keren, dan pengertian. Semenyebalkan dan senakal apapun pertemanan dulu, tetap
saja itu adalah kenakalan yang indah. Dan banyak kenangan lainnya, yang kalau
dibeberkan dari ujung A sampai Z maka cerita 80 persen cerita dejavu itu hanyalah kumpulan cerita
kenakalan kami semata yang pasti kalau kalian mengingatnya pasti akan senyum-senyum
sendiri. Yang pasti tanpa diceritakanpun memori itu sudah ternarasikan dengan
baik dalam benak teman-teman semua dengan masing-masing genrenya. Kalau diceritakan
akan ada yang men-genrekan seolah kisahnya horor, atau komedi lawak, atau malah
mengharukan bahkan menyenangkan. Dejavu
itu, tergantung dengan cara apa kita semua mau mengambil hikmah dari
kisah-kisah yang ada itu.
-Kabut putih biru-
Senon, di hari yang sewaktu itu tertunda untuk menuliskan semua.
Komentar
Posting Komentar