KARNA KITA HARUS MENULIS



Sejak kecil tidak pernah terfikirkan bahwa saya harus memiliki hobi menulis, bercita-cita menjadi penulis. Sangat jauh dari apa yang sejak kecil saya fikirkan, yaitu menjadi dokter ! namun, hobi membaca sejak SD yang seolah gila dengan berbagai macam cerita khususnya genre bacaan novel dan cerpen telah mendarah daging. Seiring berjalannya waktu saya terus menggilai cerita-cerita tersebut dari yang bergenre komedi, melow, sampai cerita horor ala-ala ghoseebumps. Namun  cerita berubah seusai saya SMA, ada kehampaan yang saya rasakan dari aktivitas pasif baca saya. Ah ya ada ruang kosong di hati yang harus segera saya isi. Kehampaan itu mulai terjawab setelah saya mengetahui dari sebuah buku berjudul Quantum Learning yang mengatakan bahwa dalam belajar kita tidak bisa hanya menjadi satu peran. Kita bisa menjadi pembaca maka kita juga harus menjadi penulis bahkan di lain waktu kita harus menjadi panelis :D. 

Seusai  masa SMA sejak awal semester 1 di perkuliahan bacaan-bacaan ringan ala novel perlahan mulai ditinggalkan beralih ke buku-buku non fiksi, buku perkuliahan, diktat dsb. Namun ditengah monotonitas bacaan dan spanengnya kehidupan, belajar menulis cerpen dan puisi pada saat itu membuat saya merasakan kebahagiaan. Mulai sejak itu saya menulis setiap hari entah dengan cerita apapun yang tidak jelas muara dan bagaimana akhirnya. Hingga menuliss adalah kewajiban yang harus dilakukan. Pernah saya mendapat cerita dari salah seorang teman bahwa sehari saja dia tidak menulis, dia akan merasakan pusing di kepala. Namun, saya belum sampai sebegitu candunya, J karena menulis adalah pelampiasan terhadap apa yang muncul di kepala. Katanya kan lebih baik menjadi sampah di atas kertas daripada menjadi sampah di kepala, maka saya masih sebatas itu.

Hingga dipertengahan jalan saya memutus aktivitas menulis itu hingga tiba di tahun terakhir kuliah saya disibukkan dengan tugas akhir. Namun itu tidak membuat saya bahagia, ada sesuatu yang kosong. Ada ikrar tersembunyi yang masih malu-malu saya tampakkan. Mulai saat itu , saat dimana saya mulai belajar di KMO, bahwa sebenarnya menulis itu:

1. Menulis maka kau akan melukis harapan
Dengan menulis saya merasa mimpi-mimpi saya hidup, harapan-harapan itu seolah di depan mata. Semesta mendukung apa yang kita tuliskan. Maka dengan itu saya tidak segan untuk menjadikan aktivitas menulis sebagai aktivitas pengikat mimpi. Aktivitas yang tidak bisa tidak dilakukan. Harus!

2. Menulis, mengikuti jalan Tuhan
Menulis sangat dekat dengan wahyu Tuhan yang pertama yaitu iqro! Seseorang boleh saja memiliki hobi membaca namun dia tidak akan bertahan dengan bacaannya jika ia hanya membaca. Tidak ada hal yang dapat menjadikan pelarian bagi isi bacaannya. Ibarat sungai maka sungai itu akan overload, jika ia hanya menerima, menampung, tanpa pernah memberi dan mengalirkannya. Sudah sepantasnya aktivitas menulis adalah gerak reflek dari wahyu Tuhan tentang ‘baca’. Baca, tulis, dan diskusi. Orang yang senang membaca tidak bisa hidup tanpa pena dan angkat suara. Begitu pula penulis, tidak akan pernah bisa hidup tanpa bisa membaca dan berdiskusi. Begitu pula dengan para diskusan, diskusi itu akan kosong bila tanpa disertai dengan bacaan dan apa yang bisa dituliskan. Maka menulis adalah skill yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada setiap manusia J. Karena menulis adalah sebuah fitrah bagi manusia yang berakal.

3. Menulis mendobrak perubahan
Banyak orang-orang terkenal menulis namun belum tahu apakah apa yang dituliskannya memiliki ruh kebaikan.  Jika banyak orang menggunakan skill menulisnya untuk mempropagandakan kejahatan dan keburukan maka menulis bagi kita para pendulang kebaikan adalah sarana menghidupkan perdamaian, mendobrak perubahan. Banyak orang yang dengan membaca tulisan berubah entah dari baik ke buruk atau buruk ke baik dan dengan tulisannya dapat menngguncang dunia. Bagaimana Lao Tse, Tsun zu, Dan Brown, Justin Gardnieer, JK Rowling, atau bahkan ‘Aid Qarni, Andrea Hirata, Anwar Fuadi dsb bisa mengguncang dunia, mengubah orang-orang, mendobrak peradaban hanya dengan tulisannya.

4. Maka menulis adalah sebuah saksi kehidupan
Bacalah maka kau akan membuka dan mengenal dunia namun menulislah maka kau akan dikenal dunia. Saya yakin dengan menulis, maka tulisan ini akan menjadi saksi kehidupan kita. Sejarah yang kita kenal saat ini akan sampai hingga akhir nanti karena komitmen dan kesungguhan penulis untuk mewariskan kebaikan yang dengan itu tulisan tersebut menjadi saksi hidup para pejuang di zamannya. Menulis adalah mengemukakan fakta pada dunia yang dengan itu dunia dapat melihat apa yang memang harus disaksikan bagi kehidupan.

Komentar